Dampak Covid19 terhadap traffic Internet di Indonesia

Sejak pertama kali ditemukan pasien positif covid19 pada awal maret 2020 di Indonesia berikut adalah trend grafik traffic Internet di Indonesia

Berdasarkan grafik MRTG/Cacti di ISP HTSNET untuk ip transit (global Internet)

Upstream #1
Upstream #2

Dapat disimpulkan terjadi penurunan traffic menuju IP Transit Internet global pada bulan maret 2020

Sedangkan untuk traffic domestik melalui beberapa Local Internet Exchange di ISP HTSNET

IIX – APJII
OIXP NICE IDC
CDIX
JKT-IX NTTI

Penurunan traffic juga terjadi pada port IIX-APJII, OIXP, CDIX dan JKT-IX pada bulan maret 2020

Sedangkan peningkatan terjadi pada port backhaul untuk layanan residensial/rumahan HomeAccess HTSNET

Backhaul layanan HomeAccess

Bisa disimpulkan gerakan Kerja Di Rumah / Work From Home , School From Home secara significant terjadi dan berdampak pada traffic layanan di perumahan yang masuk coverage area layanan HomeAccess dari HTSNET

Lalu bagaimana dengan total traffic di IIX dan OIXP? berikut grafiknya

IIX MLX_Cyber
IIX MLX_CSF
OIXP

Dapat disimpulkan relatif terjadi peningkatan traffic pada IIX karena adanya penambahan port 10G Telkomnet2 di IIX dan adanya bilateral peer ke Facebook melalui Switch IIX , sedangkan traffic pada OIXP relatif turun sedikit

Dari grafik traffic Internet baik global maupun lokal/domestik disimpulkan dengan adanya pandemi covid19 ini traffic Internet pelanggan perusahaan/corporate dan Hotel terjadi penurunan yang significant terutama Hotel karena industri pariwisata adalah salah satu industri yang kena dampak langsung dari pandemi covid19, ada informasi okupansi hotel saat ini drop sampai dengan dibawah 10% sehingga mengakibatkan 75% hotel di bali mengajukan putus berlangganan Internet untuk sementara waktu dan sisanya mengajukan downgrade, hal ini tentu sangat berdampak pada omzet perusahaan 500 Internet Service Provider (ISP) Anggota APJII di seluruh Indonesia, kecuali ISP yang punya basis layanan retail untuk perumahan/apartemen (residential) dan operator selular (3G/4G) seperti Telkomsel/XL-Axiata/Tree(3)/Indosat-Ooredoo/SmartFren yang mengalami peningkatan traffic Internet akibat pandemi covid19.

Juga di beritakan Pak Menteri KOMINFO menyarankan agar layanan Netflix dan Youtube menurunkan kualitas videonya selama masa panemi covid19 karena beban jaringan Internet menjadi sangat berat melayani traffic Work From Home dan School from Home, mungkin Pak Menteri lupa kalau Internet di Indonesia tidak hanya dilayani oleh satu atau dua ISP/Operator tetapi ada 500 lebih izin ISP yang telah diterbitkan , mengapa hal ini terjadi? karena saat ini hanya satu ISP dominan yang dapat melayani pelanggan rumahan di seluruh Indonesia, harusnya pemerintah ikut terlibat memfasilitasi agar 500 lebih ISP yang sudah memiliki izin penyelenggaraan di seluruh Indonesia dapat leluasa melayani pelanggan rumahan dengan biaya infrastruktur yang terjangkau dengan memanfaatkan infrastruktur yang ada dapat digunakan secara bersama atau dikenal dengan Open Access atau Open Virtual Mobile Network sehingga ketika terjadi Pandemi dan memaksa masyarakat untuk kerja di rumah beban traffic yang ada dapat terdistribusi ke 500 lebih jaringan inti (core network) dari 500 ISP di seluruh Indonesia sekaligus menghindari single point of failure yang pada akhirnya meningkatkan pertahanan cyber di NKRI.

Semoga pelajaran berharga dari pandemi covid19 bisa merubah pola berpikir pemerintah khususnya BUMN yang menguasai 70% lebih infrastruktur di Indonesia.